Rabu, 01 April 2009

POLITIK SEBAGAI JANJI


Ingar- bingar janji membengkakan telinga kita belakangan ini, di negeri ini, selain musim hujan beneran, ada juga hujan janji datangnya lima tahun sekali, menjelang pemilu seperti saat saat ini, yang lebih pantas disebut musim kemarau pemenuhan janji.

persoalannya apakah keliru menempatkan politik sebagai janji ? bukankah seorang pemikir besar seperti jacques derrida, justru pernah berwacana janji merupakan mantra konstitutif politik sebagai " Demokrasi akan datang " democracy to came

karena dimensi janji tersebut politik mempunyai struktur messianik, mempunyai orientasi etis ekstratemporal untuk mengacu sehingga dapat melakukan penyempurnaan terus menerus dalam mengejawantahkan keadilan. seandainya tak terpenuhi, janji masih tetap merupakan mantra penting politik karena betapapun gagal, upaya upaya memenuhinya meninggalkan jejak janji tersebut meninggalkan jejak-jejak pergulatan etis wujudkan ke adilan.

JANJI IDEOLOGIS...?

keadilan sebagai janji politik lalu menjadi acuan ziarah artikulatif setiap keputusan politik sebagai tindak nilai. rangkaian tindak politik. rumah cita cita politik adalah ideologi, kebijakan parpol-parpol tak pernah jelas karena ketidakjelasan ideologi mereka, sungguh kesulitan besar untuk membedakan kebijakan mereka masing masing atas isu isu sentral di negeri ini.
Perubahan derastis kebijakan Amerika Serikat ( AS ) seharusnya menjadi pelajaran bagi kita mengenai arti sebuah " janji " ideologis.


NANGIS GA BISA NYONTERENG MAKANYA DAFTAR

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar